|
"Untuk tingkatkan ekspor, harus investasi pada produk sepatu kulit kasual yang fokus pada perkembangan dunia seperti di Italia dan Perancis," kata konsultan kulit internasional Peter Kern saat presentasi pameran produk kulit internasional (GLS), di Jakarta, Kamis.
Menurut dia, Indonesia terlalu fokus pada produk sepatu olahraga yang pasarnya berorientasi merek dan mengekspor melalui "volume dealer" sehingga tidak memberikan banyak keuntungan bagi produsen.
"Strategi itu harus diubah menjadi spesialisai pada produk tertentu seperti sepatu jenis kasual. Tapi jangan meniru produk yang sudah ada, harus memiliki desain yang khusus," katanya.
"80% barang kulit Indonesia berasal dari kulit sapi, jadi lebih cocok untuk produksi sepatu kasual," ujarnya.
Peluang Indonesia, katanya, ada pada pasar sepatu kulit kasual kelas menengah. Apalagi, desain khas Indonesia telah dikenal di pasar Eropa.
Sementara itu, Ketua Aprisindo Jawa Timur, Sutan Siregar, mengatakan sebanyak enam perusahaan akan mengikuti pameran GLS yang akan digelar di Dusseldorf, Jerman, 15-17 September 2006.
Menurut dia, pemerintah perlu memberi dukungan terhadap industri penyamakan kulit sehingga industri sepatu kasual (non sport shoes) dapat meningkatkan pangsa pasarnya di dunia saat ini baru 2% atau 579 juta dolar AS saja. Sementara, pangsa pasar sepatu olahraga Indonesia pada 2004 mencapai 15% atau 763,5 juta dolar AS.
"Pasar `casual shoes` sangat berpeluang besar untuk Indonesia, dengan dukungan pemerintah diharapkan industri penyamakan kulit lebih bergairah lagi," katanya.
Produksi sepatu kasual, lanjut dia, sangat tergantung dengan pasokan kulit. Disamping bantuan permodalan, katanya, pemerintah juga harus memberikan pelatihan serta fasilitasi tarif impor bahan baku.
"Kita juga ingin indsutri benang, lem dan asesoris, dikembangkan sehingga bisa memasok industri sepatu kasual," tambahnya.
Selama ini, benang, lem, dan asesoris sepatu kasual sebanyak 80% masih tergantung impor dari China.
Dengan dukungan pemerintah, lanjutnya, Aprisindo optimistis ekspor alas kaki Indonesia pada 2007-2008 akan meningkat menjadi 7 miliar dolar AS. Sementara, pada 2005 ekspor produk alas kaki Indonesia hanya mencapai 3 miliar dolar AS.
"Pangsa pasar produk Indonesia bisa lebih dari 15%, jika 7 miliar dolar AS tercapai maka kita harapkan pangsa pasar kita bisa meningkat menjadi 25%. Kulit Indonesia yang terbaik di dunia, itu sudah diakui," jelasnya. (*/rit)
|